5.0 sudah 5 Tahun Berlalu

Rasanya baru saja kita membincangkan revolusi industri 4.0. Dan kita, khususnya di Indonesia begitu mengelu-elukan era itu sebagai titik balik hidup yang dirembesi modernitas.

Namun sejak 2019 lalu, eforia itu telah berganti wajah menjadi Society 5.0 sebagai resolusi atas revolusi industri 4.0 yang dianggap terlalu mengagungkan teknologi dan menihilkan peran manusia. Semacam dehumanisasi.

Memang, pada revolusi 4.0 dianggap lebih dominan diterapkannya teknologi modern berupa fiber technology dan integrated network dengan tujuan menyokong setiap gerak ekonomi dari produksi menuju konsumsi.

Nirkehadiran manusia coba diatasi pada Society 5.0 dengan jabat tangan teknologi dan manusia yang memungkinan keduanya hidup berdampingan. Era ini ditandai pesatnya laju information and communication technology (ICT) dengan pengaruh yang amat drastis bagi masyarakat dan industri.

Pendek alasan, Society 5.0 lebih diarahkan untuk membangun peradaban manusia dan masyarakat melalui ICT.
Perkembangan ICT, terutama melalui berbagai platform media sosial, telah lama dipikirkan Robert T. Kiyosaki dalam salah satu buku terkenalnya, Rich Dad, Poor Dad (1997).

Dalam karyanya itu, Kiyosaki seperti bersikukuh dengan menganggap bahwa kesuksesan hidup di masa depan—bahkan mungkin akan menjadi standar—sangat ditentukan oleh pendidikan, penguasaan teknologi informasi, dan networking.

Penguasaan teknologi informasi mungkin dapat diluaskan maknanya menjadi ICT dan networking sebagai manifestasi publikasi, marketing dan jejaring. Lalu, media sosial yang seolah mendominasi tiap inchi kehidupan kita di masa kini telah melunasi dua pikiran Kiyosaki itu: ICT dan networking.

Seturut dengan Kiyosaki, Rheinald Kasali mengimajinasikan mekarnya peradaban manusia yang berpadu padan dengan kecanggihan ICT telah mengubah wajah kehidupan dari yang konvensional dan tradisional menuju digitalisasi.

Dalam bukunya, The Great Shifting (2018), Kasali menyebut hampir seluruh isi dunia nyata telah berpindah ke dunia maya. Dunia mengalami perubahan besar-besaran yang disebut Kasali sebagai Disruption (2017).

Pendapat para ahli tersebut mengisyaratkan adanya medium yang dapat memperantarai keinginan manusia untuk diartikulasikan melalui dunia online dan digital. Dan itu sudah terbukti semua.

Meski Society 5.0 sudah lama menggantikan revolusi industri 4.0, tidak ada salahnya kita terus menikmati era ini, sebelum digantikan era yang baru. Entah kapan [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *