Setelah membunuh begitu banyak pasukan kera, Kumbhakarna akhirnya mati. Rama “terpaksa” memanahnya karena tidak ingin melihat Kumbhakarna menderita terlalu lama, selain karena pasukannya akan makin berkurang jika ia dibiarkan hidup.
Berita kematiannya segera menyebar setelah tangan, kaki dan kepalanya terputus oleh panah Indrastra. Rahwana sedih bukan kepalang. Salah satu adik kesayangannya, selain Wibhisana dan Surpanaka, meninggalkannya.
Meski memiliki kelemahan, tertidur lebih dari enam bulan, Kumbhakarna adalah pengingat setia Rahwana. Kumbhakarnalah yang selalu meminta agar Dewi Sinta diserahkan kepada Rama. Ia menyadari marabahaya akan menyelimuti Alengka jika Sinta makin lama disembunyikan Rahwana. Meski nasihatnya selalu diabaikan sang kakak, ia tetap patuh terutama kepada Alengka, negaranya. Bukan kepada Rahwana semata.
Saat negara dalam keadaan chaos, Kumbhakarna melakukan pengorbanan hebat. Secara patriotik ia menjemput kematiannya sebagai ksatria sejati. Dua putranya kesayangannya bahkan juga ikut mati dalam peperangan. Kumba dibunuh Sugriwa, dan Nikumba gugur di tangan Hanuman.
Bagi Kumbhakarna, keselamatan negara di atas segalanya, bukan lagi untuk melindungi Rahwana, kakaknya. Kecintaannya kepada Alengka melebihi kecintaan kepada keluarganya sendiri. Pengorbanan dan rasa cinta tanah airnya ini, persis seperti dinasihatkan kitab Arthasastra karya Rsi Kautilya.
Kisah epik “kepahlawanan” Kumbhakarna menginspirasi tentang dua hal, rela berkorban untuk orang banyak (baca: rakyat) dan kecintaan kepada negara (baca: ibu perthiwi).
Dalam kamus, mereka yang disebut pahlawan jika di dalam darahnya mengalir deras sikap patriotik, nasionalisme dan ketulusan berkorban untuk membela kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang pada masa kolonialisme, terutama jauh sebelum kemerdekaan 1945, disebut pahlawan. Sebut saja beberapa di antaranya, Pangeran Diponegoro, Sisingamangaraja, Pattimura, dlsb.
Dalam maknanya yang lebih luas, pahlawan tentu saja tidak selalu di tangannya menghunus keris untuk bertarung. Beberapa pahlawan nasional bahkan menggunakan pikiran dan gagasannya sebagai “keris tajam” untuk membangun bangsa.
Misalnya, Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim dlsb adalah mereka yang dengan kekuatan idenya sukses ikut memerdekakan Indonesia. Juga mereka yang berjuang melalui pergerakan perempuan, yang pada masa itu sangatlah sulit, seperti Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dlsb.
Tanggal 10 Nopember hanyalah momentum untuk memperingati kepahlawanan mereka. Namun jauh lebih besar dari sekadar seremoni, warisan nilai perjuangan para pahlawan itu bukan semata untuk dirayakan.
Kita, generasi yang 79 tahun setelah pertarungan hebat di Surabaya adalah pengisi dan pelanjut saja. Saban tahun kita diingatkan untuk kembali mengenang betapa gagahnya Bung Tomo dan pasukannya mengorbankan jiwa raganya saat mengusir kolonial yang ingin kembali menjajah saat Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya.
Saat ini, peperangan melawan kebodohan dan kemiskinan juga tak kalah pentingnya. Belum lagi tentang keadilan sosial. Cita-cita adil dan makmur masih sangat utopis. Belum lagi masalah-masalah kenegaraan lainnya.
Dunia sudah banyak berubah. Kemajuan teknologi acap menimbulkan disrupsi setiap saat terjadi. Kita butuh kecepatan berpikir untuk responsif dan adaptif. Jika tidak, perubahan itu akan memaksa kita untuk berubah. Lompatan kemajuan, secara sadar harus diikuti. Kalau tidak, kita akan tertinggal makin jauh.
Selamat Hari Pahlawan, semoga tidak hanya berhenti pada peringatan semata. Tapi lebih dari sekadar seremoni atau derap langkah tegas komandan upacara [*]