4 Ritus di Bulan November

Ilustrasi November [sumber google imagaes]

Bulan November itu penuh inspirasi. Guns N’ Roses bahkan harus membuat lagu “November Rain” (1991). Berbeda dengan group musik beraliran rock cadas ini, Tom Waits menggambarkan “November” dalam album The Black Rider (1993) dengan nada melankolis, lebih mendayu, sedikit gelap dan puitis. November, seolah menjadi bulan penuh kesunyian.

Selain melalui musik dan lagu, November juga banyak diaksentuasi ke dalam layar lebar. Sebut saja salah satunya film “Sweet November” (2001) yang dibintangi Keanu Reeves dan Charlize Theron.

Begitu juga dalam urusan sastra, seperti puisi, tema November juga banyak dipuja-puja. Nuansanya tetap sama, penuh romantika. Entah kenapa. Mungkin karena bulan ini, lebih-lebih di Indonesia, hujan mulai turun, angin basah akan membasuh bumi.

Sastrawan besar, Sapardi Djoko Damono, melukiskan nuansa November hadir sebagai waktu yang meluruh. Dan meski terlihat garang, Wiji Thukul, seorang aktivis masa reformasi, menyinggung November sebagai awal musim hujan. Dalam konteks perjuangan rakyat yang dimotorinya ketika itu, November dijadikan simbol penuh harapan dan pembasuh luka sosial.

Bagi rakyat Indonesia, tentu saja November akan selalu dikenang sebagai bulan-bulan penuh heroisme. Di Surabaya, Bung Tomo menyeru dan membakar semangat rakyat pada 10 November 1946. Sejak saat itu, Hari Pahlawan ditancapkan pada tanggal bersejarah itu.

Bergerak ke Bali, nama I Gusti Ngurah Rai menjulang. Dengan pasukan yang sangat terkenal, Ciung Wanara, ia memilih jalan puputan. Pada sebuah lembah di sudut Margarana, Tabanan, pada 20 November 1946, Rai memimpin perlawanan paling sengit dalam sejarah perang. Puputan Margarana menjadi monumen hidup, berkisah tentang perlawanan yang melampui logika kemenangan material.

Ngurah Rai mengirim pesan kuat kepada generasi penerusnya tentang perjuangan yang tak mengenal batas akhir. Bahkan hingga kata terakhir menjerit, hingga ajal menjemput. Puputan Margarana bukan sekadar perang fisik semata, tapi totalitas kepada kebenaran dan keadilan. Itulah Yudha Dharma, perang di jalan kebenaran (dharma).

Apa yang dilakukan Rai bersama Ciung Wanara adalah praktik nyata tentang konsep kemuliaan mati di medan perang. Kematian itu bukan tanda kalah. Sebaliknya, kemenangan dharma. Karena keluar dan lari dari medan perang, itu adharma.

79 tahun kemudian, semangat ksatria yang ditunjukkan Bung Tomo dan Ngurah Rai mengajak kita (umat Hindu) tidak harus memanggul senjata untuk berperang, tetapi terus berjuang menegakkan dharma dalam kehidupan. Tanpa jeda.

Kini, menjadi pahlawan itu bisa siapa saja dan menjadi apa saja, sepanjang ia mampu menegakkan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan menjaga kemanusiaan. Tidak peduli ia petani, buruh, hingga pejabat negara.

Dua ritus besar itu, Hari Pahlawan dan Puputan Margarana, masih di bulan November ini, bertemu dalam satu tungku yang sama dengan dua ritus lainnya, Galungan dan Kuningan. Pertemuan yang sempurna untuk melanjutkan semangat Yudha Dharma.

Buda Kliwon Dungulan menjadi momentum spiritual untuk membersihkan diri dari kekotoran pikiran dan godaan sang kala tiga, sedangkan Tumpek Kuningan adalah puncak perayaan kemenangan dharma. Galungan dan Kuningan menjadi siklus abadi yang akan terus menguji kesabaran, kesadaran, dan kesetiaan kita kepada dharma. Jika lolos semua uji ini, kita sesungguhnya pahlawan itu.

Galungan dan Kuningan mengajarkan kita untuk tidak hanya mengukur kemenangan dari berapa musuh atau lawan berjatuhan, melainkan seberapa hebat kita mengalahkan musuh di dalam diri sendiri. Atau seberapa hebat kita menaklukkan adharma dalam batin.

Jika Bung Tomo dan Ngurah Rai memenangkan pertarungan dharma di medan dunia, maka perjuangan dari Galungan dan saat Kuningan adalah perayaan kemenangan dharma di medan jiwa, rohani dan spiritual.

Delapan dekade kemudian, pasca 1946 itu, kita telah berada dalam perang nilai. Kita sudah tidak lagi menghadapi musuh dengan laras panjang dan meriam, tetapi berubah wujud menjadi ruang digital—termasuk proxy war, hoax, hate speech, disinformasi—kebodohan dan kemiskinan. Juga disparitas ekonomi, politik kotor dan nirmoralitas di mana-mana. Jangan lupa, musuh yang bahkan jauh lebih kejam dari Belanda di masa lalu: korupsi, kolusi, nepotisme.

Empat ritus dalam satu bulan November (Hari Pahlawan, Puputan Margarana, Galungan, Kuningan) adalah sebentuk narasi utuh yang mengisahkan laku manusia. Dari perang lahir menuju perang batin; dari medan dunia ke medan jiwa; dari perjuangan kebangsaan menuju perjuangan kemanusiaan.

Jika dalam perang, tubuh mungkin mati, gugur, tetapi nilai abadi, maka dalam dharma, kemenangan sejati tidak untuk mengalahkan orang lain, tetapi menemukan kebenaran di dalam diri, di dalam hati.

Dan jika alarm berbunyi mengingatkan kita merayakan Hari Pahlawan, Puputan Margarana, Galungan dan Kuningan dalam satu bulan ini, maka kita diingatkan kembali untuk terus berjuang di medan dharma.

Oleh karena itu, November bukan semata bulan bersejarah, tetapi bulan perenungan penuh kontemplatif. Spirit perjuangan dari Surabaya hingga Margarana, dari pura ke layar digital, maka perjuangan dharma melawan adharma akan terus dilakoni.

Yang pasti, seorang pahlawan tidak perlu menantikan perang berkecamuk baru bertindak. Ia bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja, terlebih saat dharma mulai mundur, kalah oleh keserakahan, ketamakan, ego, dan keangkaramurkaan.

Menjadi pahlawan untuk diri sendiri, bisa melakukan apa saja, dari yang ringan dan kecil, meski tidak akan tercatat dalam buku sejarah. Tertib berlalu lintas, atau tidak buang sampah sembarangan misalnya. Karena sesungguhnya, pahlawan kemenangan dharma adalah mereka yang menang tanpa mengalahkan, berjuang tanpa kebencian, dan satya pada kebenaran.

Selamat Hari Pahlawan, Puputan Margarana, Galungan dan Kuningan dalam satu kartu ucapan. Selamat menjadi pahlawan dharma [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *