Sewaktu SD, aku punya guru seni lukis yang mudah dimengerti penjelasannya. Namanya I Made Mulia, dari Gianyar. Semua orang tahu. Orang Gianyar, rata-rata pandai dalam seni. Termasuk melukis, tentu saja. Aku merasa beruntung. Bisa belajar melukis darinya.
Kemampuan melukisku tidak jelek-jelek amat. Menurut Pak Mulia, sudah cukup bagus. Minimal bagi anak-anak yang hidup di daerah yang bukan daerah seni. Aku sendiri orang pesisir. Yang lebih akrab dengan pantai, laut, sampan. Bukan kanvas, kuas, cat warna.
Bakat melukisku terasa mulai berkembang saat SMP. Gurunya juga masih sama, Pak Mulia. Banyak teman antre untuk dibuatkan pekerjaan rumah melukis. Bahkan sejam sebelum berangkat ke sekolah, masih ada teman sekelas yang menunggu lukisannya selesai.
Karena dianggap cukup terampil, aku dan beberapa teman lain, diikutkan dalam lomba melukis tingkat Kotamadya Denpasar. Sayang, tidak menang. Masuk juara harapan ketiga pun, peringkat paling rendah, tidak. Peserta lomba, terutama yang dari Denpasar memang sudah jago-jago waktu itu. Mungkin saat ini sudah ada yang menjadi pelukis professional.
Saat SD dan SMP, lukisanku termasuk aliran realis. Semua tugas melukis aku mampu buat menyerupai obyek yang sebenarnya. “Tapi jika sedikit meleset dari obyek nyata, tidak apa-apa”, kata Pak Mulia sering menyemangati. “Nanti bisa diasah”, katanya lagi. Namun saat PGAH, kemampuan melukisku itu mulai hilang. Nyaris tak berbekas.
Lalu, sekira tahun 1996-1997, entah kenapa, motivasi melukis muncul lagi. Kali ini, agak ekspresif. Bukan lukisan abstrak, tapi seni instalasi di atas kanvas. Beberapa lukisan itu masih tersimpan. Jika melihatnya kembali, hanya bisa tersenyum. Kadang menyesal. Juga geli.
Kemampuan melukis dengan aliran instalasi aku dapatkan saat aktif bermain teater. Di UNHI aku Ketua “Teater Pangkaja”. Tugasku hanya bikin skrip, menyutradarai dan mendesain panggung. Basecamp teater pada satu ruang khusus, aku isi penuh dengan berbagai instalasi.
Kini, semua kemampuan ajaib itu kembali hilang. Aku juga tidak ingin membangkitkannya lagi. Biar menjadi kenangan saja. Menjadi pelajaran hidup. “Andai aku seriusin bakat itu, mungkin…ah, sudahlah”, batinku penuh sesal.
Namun, putra bungsuku, saat kelas 4 SD ingin belajar melukis. Aku bersemangat. “Siapa tahu gen melukisku, meski itu secuil akan diturunkan”, pikirku. Segera aku panggil guru melukis ke rumah. Si bungsu awalnya senang dan menikmati. Tapi, sayang, seperti ayahnya, tidak mau meneruskan lagi. Les melukispun mandeg. Hanya beberapa lukisan saja dihasilkannya.
Mungkin dia jenuh. Mungkin juga untuk bersenang-senang. Maklum anak-anak. Dunianya sering berubah-ubah. Tapi tak apa. Yang penting aku dan si bungsu pernah bisa melukis, meski berakhir dengan “kegagalan” berkembang [*]