[Masih] Belajar Menulis

Aku masih ingat, di kelas 2 PGAH, pada 1991, sebuah beritaku terbit di Bali Post. Senang bukan kepalang saat honor menulis dikirim ke kosan. Sejak saat itu, aku terus termotivasi menulis. Sayang, selepas lulus, saat kuliah di UNHI, aku malah sibuk dalam kegiatan kampus dan kemahasiswaan. Hobi menulis raib begitu saja.

Baru setelah bekerja di Jakarta, pada 1998, aku menulis lagi. Tidak di koran, tetapi majalah bulanan. Warta Hindu Dharma (WHD) namanya. Temanya, ya tentang agama Hindu. Hampir saban bulan, aku rutin menulis. “Wija Kesawur” oleh Ki Nirdon di halaman terakhir WHD juga menjadi bacaan favoritku.

Honor WHD lumayan untuk menambah uang jajan. Maklum sebagai PNS baru, hidup di Jakarta selalu tidak pernah cukup. Kondisi terdesak untuk bertahan hidup itu membuatku termotivasi lagi menulis. Hobi menulis perlahan bangkit.

Saat tahu WHD tidak terbit lagi, banyak tawaran menulis di beberapa majalah. Maklum, saat itu sedang booming majalah Hindu. Di Jakarta ada “Media Hindu” yang cukup terkenal. Di Bali lebih banyak lagi. Tapi sejak di WHD, aku tak menulis di media cetak lagi. Saat itu aku disibukkan menjadi peneliti di Litbang, Kementerian Agama.

Di sela-sela itu, sempat juga menulis di koran nasional. Tidak banyak, hanya dua kali. Seorang editor koran ternama, yang ternyata kakak kelas sewaktu studi S3 di UI, cukup kaget membaca. “Harusnya kamu kirim ke Kompas. Sudah masuk standar tuh”, pujinya. “Ah, mungkin senior ini hanya menghibur saja” batinku. Atau memang aku punya potensi. Entahlah.

Menulis di majalah, koran dan karya ilmiah, tentu berbeda. Sangat berbeda. Selain karena ideologi media, juga gaya menulisnya. Yang tetap itu karakter penulisnya. Bahkan ada adagium tak tertulis, tulisan menggambarkan siapa penulisnya.

Saat pulang ke Bali, aku langsung diminta menulis di “Majalah Wartam”. Gaya tulisanku jadi berbeda dengan WHD di masa lalu. Agak progresif, seperti membawa bedil, menembak ke segala arah. Entah tepat sasaran atau meleset. Oleh GunGun, kartunis keloktah dan dedengkot Wartam, tulisanku dilabel ngerepet. Seperti bensin yang siap membakar.

Namun, sejak tiga nomor terakhir, aku mencoba sedikit mengubah gaya itu. Mencoba wise. Bukan karena bisikan usia yang terus merambat tua. Hanya ingin mencari pola. Sayangnya terlalu banyak penulis yang aku mau contoh, dan satu pun tidak bisa aku samai kemahirannya. Gunawan Muhammad terlalu tinggi, Yudi Latif juga masih sangat jauh. Tapi Dahlan Iskan aku sangat menyukainya. Sepertinya cocok denganku. Sepertinya saja.

Di Bali, Aryantha Soetama adalah inspirasiku. Namun, jangankan menyamai, sekadar mengikutinya saja, aku masih jauh tertinggal. Wayan Westa aku menyukai diksi-diksi sastrawinya. Tapi aku masih kering bin dangkal dibanding kekayaan kosa katanya. Mungkin aku akan mengikuti Angga Wijaya. Meski itu juga sulit.

Dan, aku memang tidak harus menjadi siapa-siapa. Sepertinya begitu [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *