Akhir 2019, dunia dikejutkan dengan tersebarnya virus corona atau SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2). Penyebarannya begitu cepat dan masif. Sakit yang disebabkan virus itu kemudian dikenal COVID-19 (Corona Virus Disease 2019).
Mulai pertengahan 2022, COVID-19 dinyatakan mulai reda. Kehidupan juga berangsur pulih. Orang kembali menata hidup dari trauma. Entah karena banyaknya korban meninggal, atau bayangan pernah diburu kekhawatiran sakit karena COVID-19. Atau teringat nyerinya jarum suntik dan gelinya hidung tercolok. Tinggalan peristiwa kelam itu akhirnya melahirkan beragam sikap.
Ada yang masih setia dengan semua protokol kesehatan yang dahulu pernah menjadi habitus, semacam refleks sosial. Tapi tak sedikit yang abai, lalu melupakan masa lalu itu. Ia dianggap telah menjadi sejarah yang pernah menghiasi perjalanan hidup umat manusia dari akhir 2019-medio 2022.
Meski begitu, residu COVID-19 juga melahirkan budaya minor, di mana orang-orang masih tetap memakai masker, mencuci tangan, atau menggunakan handsanitizer. Khusus penggunaan masker, benda itu sanggup melintasi batas usia, gender, status sosial, dan tempat.
Jika harus bernostalgia lagi, dulu kita sering memaafkan diri sendiri jika alpa mencuci tangan, tapi tidak jika lali pakai masker. Hampir semua orang sudah meng-install masker di kepalanya hingga menghasilkan template yang tidak bisa ditolak begitu saja. Jika bukan orang lain yang mengingatkan, sering kita sendiri kaget merasa bersalah saat tidak menggunakan topeng setengah wajah ini ke luar rumah, apalagi di ruang publik.
Tampaknya, masker adalah juaranya protokol kesehatan, tentu dengan tanpa mengecilkan protokol kesehatan lainnya. Masker telah menjadi satu tren tersendiri sehingga bentuk, warna dan atributnya bisa dikreasi sedemikian rupa.
Bentuknya sangat beragam sesuai kesukaan, warnanya banyak sekali sesuai selera, dan atributnya juga tak kalah menarik. Ada banyak pilihan gambar, hiasan, dan motif pada masker. Rupa logo sebuah perusahaan atau instansi pemerintahan juga bisa dipasang. Intinya, masker menawarkan nilai yang akan diambil sesuai kepribadian dan karakter seseorang.
Beberapa di antara kita malah telah menjadikan masker sebagai gaya hidup, menjadi simbol untuk menunjukkan siapa kita yang sesungguhnya. Dalam budaya populer, boleh jadi masker telah melangkah sangat jauh untuk mewakili status sosial, afiliasi politik, kemapanan, kelas, pekerjaan dan kedudukan kita.
Dengan masker, kita menyimbolisasi diri, yang impresinya sesuai keinginan si pemakai. Telah lama sekali, Ernest Cassirer menyebut manusia sebagai makhluk bersimbol (animal symbolicum). Kali ini, masker dipilih manusia sebagai simbol untuk mengekspresikan wajah dibaliknya.
Misalnya, pedagang asongan di pinggir jalan, akan lebih banyak menggunakan masker dengan gambar dan motif yang lucu. Salah satunya untuk menarik konsumen. Bagi yang berkepribadian easy going, akan memilih masker dengan bentuk yang mudah dan tidak ribet saat dipakai.
Pegawai kantoran lain lagi. Masker yang dipakai akan mengesankan suasana formal, cenderung kaku. Pigur publik apalagi. Mereka akan menggunakan semenarik mungkin karena akan ditonton banyak orang.
Bagaimana dengan kaum sosialita? Ah, bentuk, warna dan motif masker akan dipilih dengan sangat hati-hati. Tidak mungkin kaum mahal ini menggunakan masker bermotif norak atau menyeramkan. Saking selektifnya, mereka memiliki masker berharga ratusan ribu bahkan puluhan juta. Bukankah masker terbuat dari emas atau berhiaskan manik permata juga sudah pernah ada yang bikin?
Pendek cerita, masker atau topeng setengah wajah ini telah digunakan sehari-hari. Ia tidak ubahnya seperti pakaian, atau menjadi bagian dari pakaian itu sendiri. Begitu bergunanya masker, selain sebagai alat paling aman mencegah mata rantai virus corona, ia akan menjadi benda teramat bersejarah saat pandemi benar-benar berakhir.
Pada saatnya nanti, atau selepas 2022, masker akan diabadikan sebagai salah satu benda istimewa yang menandai sejarah hidup manusia. Anak-anak yang hidup pada masa pandemi ini akan mengenang benda ini puluhan tahun yang akan datang. Bahwa pernah pada suatu jaman, mereka bersama semua orang di dunia menjadi makhluk-makhluk bertopeng. Pandemi COVID-19 telah mengubah setengah dari wajah utuh manusia dengan masker.
Manusia yang otentik dan yang palsu menjadi semakin sulit dikenali. Beberapa orang mengeluh saat foto bersama karena tidak bisa lagi mengekspresikan rasa gembiranya dengan senyum. Bahkan beberapa orang merasa terintimidasi karena tidak sanggup mengetahui ekspresi lawan bicara yang sesungguhnya. Ternyata senang, sedih, kecut, sinis, atau serius bisa disembunyikan dibalik masker.
Masker seolah menjadi topeng manusia. Sebagaimana gagasan Erving Goffman tentang permainan dan drama, di panggung depan (front stage) manusia memperlihatkan dirinya dengan masker beraneka pilihan menarik. Di panggung belakang (back stage), manusia menyembunyikan wajah dibalik maskernya.
Kita semua sedang memainkan dramaturgi ini, bahkan sejak dari dalam rumah ketika hendak keluar hanya untuk membeli permen dan sebatang rokok. Bukan untuk sesuatu yang sebenarnya sangat serius dalam hidup.
Betapa masker penuh maknawi, tafsirnya bisa beragam. Jangan-jangan, iya jangan-jangan, kita sedang dalam era di mana masker dapat menjadi topeng untuk menunjukkan kebenaran sekaligus menyembunyikan kepalsuan atau memperlihatkan kegetiran sekaligus menyembunyikan kegembiraan.
Jika harus memplesetkan lagunya Peterpan, mungkin kita bisa bernyanyi bersama: “…buka saja topengmu, buka saja maskermu…” [*]