Ironi Butiran Pasir

Bagi nelayan, dan semua penghuni sebuah pulau, laut adalah “kekasihnya”, dan napas utama kehidupannya. Hamparan pasir di pantai adalah beranda rumah masa depannya. Selalu begitu, tak akan pernah berubah. Sampai kapanpun.

Namun apa jadinya kini, jika mereka yang selama hidupnya diitari laut, yang rambutnya kemerahan dipapar terik matahari, yang kulitnya asin kehitaman, sudah tak bisa mandi atau sekadar bermain-main lagi di pantainya sendiri? Itu adalah kematian kecil, sebuah petaka. Nestapa.

Pantai dan laut milik Tuhan, milik alam, milik semua makhluk.

Pantai dan laut jangan kau menjauh dan berpisah terlalu lama.

Mereka, para nelayan dan anak-anaknya, masih rindu bertegur sapa lagi dengan desiran angin basahmu, memainkan bulir-bulir pasirmu, mendengar gemericik riak ombakmu, mengelus keras karangmu, dan menonton tarian ikan-ikan kecil yang meliuk di antara gemulainya lambaian ganggangmu.

Dan kini, mereka meratap lara. Ingin mengadu, tapi kepada siapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *