Amartya

Amartya Kumar Sen [diambil dari google images]

Tak berbeda dengan orang tua lainnya, aku juga punya harapan sekaligus doa melalui nama untuk anakku. Saat sulungku lahir, aku menawarkan kepada istri satu nama Amartya di antara nama panjangnya. Nyaris tidak ada perdebatan. Ia setuju. Saat itu, ia tahu persis aku sedang jatuh cinta pada nama Amartya Kumar Sen.

Aku ingin memberi nama anakku Amartya karena gagasan fenomenalnya tentang ekonomi mendapat pengakuan global. Namun bukan karena nama Amartya, anakku bisa atau harus seperti Amartya Sen. Aku hanya terobsesi untuk mengabadikan kecemerlangan filsuf besar India itu saja. Tentu saja aku tidak ingin membebani anakku dengan nama besar Amartya Sen.

Sebetulnya, nama Amartya Sen baru aku kenal menjelang berakhirnya mata kuliah Filsafat Ekonomi. Aku mengambilnya sebagai mata kuliah pilihan saat menempuh Program Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia, 2001-2004. Saat mengambil matakuliah itu, kami para mahasiswa “dipaksa” kudu memahami John Adam Smith, melalui karya besarnya, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, sering hanya disebut The Wealth of Nations.

Karya Adam Smith itu telah mendapatkan pengakuan luas karena berhasil menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa, serta yang terpenting dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme. Ia adalah salah satu pelopor sistem ekonomi kapitalisme. Tak salah, melalui gagasan klasiknya itu, ia didampuk sebagai “Bapak Ilmu Ekonomi.”

Lalu, saat membincangkan perjalanan hidup Adam Smith itulah, nama Amartya Sen ikut terselip dibahas. Masalahnya juga sepele. Dosen pengampuku merespon pertanyaan salah seorang dari kami: mengapa seorang filsuf seperti Adam Smith bisa menjadi ekonom besar? Ia dengan enteng balik bertanya: apakah seorang ekonom bisa menjadi filsuf besar?

Dengan panjang lebar, ia menceritakan seorang ekonom besar dari India, kini menjadi filsuf yang sangat disegani. Namanya Amartya Kumar Sen. Sejak tahun 1972, Amartya Sen menjadi pengajar dan bekerja di Inggris dan Amerika Serikat. Amartya Sen dengan gemilang telah memberikan kontribusi besar secara akademik untuk isu-isu ekonomi kesejahteraan, teori pilihan sosial, keadilan ekonomi dan sosial, teori ekonomi kelaparan, teori keputusan, ekonomi pembangunan, kesehatan masyarakat, dan ukuran kesejahteraan negara. Melalui gagasannya itulah, ia meraih Nobel Bidang Ekonomi pada 1998.

Yang menarik, visi pembangunan Amartya Sen adalah berpusat pada manusia. Ia menawarkan Development as Freedom sebagai gagasan transformatif di bidang studi pembangunan, yang mengalihkan fokus dari metrik ekonomi ke peningkatan holistik kebebasan manusia.

Awal tahun 2000-an, melanjutkan reformasi yang mengusung kebebasan dari jerat otoritarianisme, militerisme dan semua residu Orde Baru, pikiran untuk menjadikan kapasitas manusia sebagai sumber utama pembangunan, seperti digagas Amartya Sen, sedang menggelora. Aku, dan mungkin banyak orang saat itu, pasti sangat menyukai ide progresif ini.

Dus, nama Amartya aku abadikan untuk nama anakku karena pikiran-pikiran besar sang filsuf seolah melampaui jaman. Jika suatu saat anakku terinspirasi oleh Amartya Sen, itu bonus besar yang patut aku syukuri kelak [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *